26 Jumadil Akhir 1441 H

358 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Oleh: Dwiwap.com

=> HARI RAYA IDUL FITRI BUKAN HARI RAYA MAAF-MAAFAN DAN SALAM-SALAMAN. SEMUA ITU TRADISI DAN BID’AH YANG DI KEMBANGKAN OLEH ORANG-ORANG YANG TAQLID BUTA TERUTAMA DARI GOLONGAN NU DAN SEJENISNYA.

Berkunjung/bersilaturahmi ke sanak kerabat, saudara, temen deket dan sejenisnya itu bagus karena bisa menjalin tali persaudaraan dan hal tersebut juga tidak ada kaitannya nya dengan ibadah yang di ada-adakan, jadi bukan bid’ah, namun tidak harus silaturahmi dan maaf-maafan di khususkan di hari raya Id dan menjelang ramadhan, namun ironisnya giliran berbuat salah bahasa jawanya malah mungkir dan yang di ucapkan ketika bertemu pun tidak sesuai dengan tuntunan syariat, kebanyakan yang mereka ucapkan adalah: Lahir batin pak, lahir batin buk, lahir batin mas dan seterusnya. Atau ketika kirim wa ngucapin selamat hari raya dengan seperti di awali mohon maaf lahir dan batin dan seterusnya… Seharusnya jelasin atas kesalahan apa anda minta maaf…biar jelas.

Namun ironisnya yang terjadi dalam masyarakat adalah hari raya Id mereka jadikan atau khususkan untuk maaf-maafan dan salam-salaman, entah yang di minta maaf itu punya salah atau tidak yang penting lahir batin buk, lahir batin pak dsbt. Namun giliran punya salah kepada seseorang mereka enggan meminta maaf. Justru mereka utamakan meminta kepada orang yang tidak pernah berbuat kesalahan. Ini terjadi kepada mayoritas. Kecuali kepada yang rendah hati dan jiwa pemaap.

Mengkhususkan minta maaf/maaf-maafan di hari raya Id tidak ada tuntutannya, meminta maaf bisa kapan saja tidak harus nunggu hari raya Id, ketika berbuat salah maka ketika itu juga harus minta maaf.

Nabi bersabda yang artinya: Barang siapa memaafkan saat ia mampu membalas, maka allah akan memberinya maap pada hari kesulitan. (HR. Tabrani).

Memaafkan orang lain berarti memaafkan diri sendiri.

Mungkin anda sering mendengar orang berkata seperti ini:
Jika anda memaafkan org lain, berarti anda memiliki jiwa yang besar

Memaafkan orang lain itu sangat sulit, bahkan mungkin tingkat kesulitannya dua kali lebih besar dari pada meminta maaf.

Kenapa? karena memaafkan orang lain membutuhkan beberapa hal yang besar dari diri anda yaitu:

  • Melupakan sakit hati.
  • Tidak menyimpan dendam.
  • Melepaskan ego pribadi.
  • Mengiklaskan.

Namun meminta maaf itu ketika merasa punya salah maka segera minta maap, minta maap di kususkan menjelang ramadhan dan sehabis sholat ID tidak ada tuntunan nya.

Minta maaf bisa kapan saja tidak harus di tentukan waktu nya. Namun kenyataannya dan ironisnya banyak orang kita jumpai dalam masyarakat pengikut islam golongan, terutama golongan Nu ketika punya salah malah pada mungkir tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan segera meminta maaf, namun ketika menjelang ramadhan dan setelah shalat idul fitri yang tidak punya salah malah di minta maapin.

Yang di zalimi, yang di buat sakit hati, yang di kecewain, yang di remehin/lecehin dan di sejenisnya malah di abaikan. Inilah akibat salah satu pembodohan dan juga akibat ngutamain tradisi dan bid’ah ketimbang ngutamain syariat islam. Bagi anda yang belum memiliki jiwa besar yang mudah memaafkan dan minta maaf saran penulis jangan sesekali ngutamain tradisi dan bid’ah.

=> Ada yang bertanya:

Assalamualaikum Mas dwi saya sering melihat orang di kampung saya atau dalam mayoritas masyarakat terutama dari golongan Nu nya ketika habis sholat salam-salaman dan sebagian cium tangan dan sebagian cium tangan nya di bolak-balik. Apa tanggapan mas Dwi?

Jawab: Waalaikum salam Warahmatullahi Wabarakhatu.

Terimakasih atas pertanyaan nya yang sangat bermanfaat. Hal yang anda tanyakan atau anda maksut bukan hanya terjadi di kampung anda saja, tapi terjadi dalam hampir mayoritas umat islam di Indonesia. Mereka biasanya bersalam-salaman setelah selesai sholat, langsung mereka salam-salamin kiri, kanan, belakang, depan dan yang masih bisa mereka jangkau dari juluran tangannya dan sebagian salam-salaman nya setelah habis selesai zikir bersama yang dilakukan secara berputar. (Berzikir berjamaah dengan suara zahar tidak ada contoh nya, mereka yang mengamalkanya mayoritas gagal faham terhadap dalil, nanti di bahas di lain judul).

Lanjut..
Bersalam-salaman setelah shalat semua itu ibadah tanpa dalil yaitu bid’ah/sesat, ibadah karya manusia biasa yang mereka anggap baik dan akhirnya mereka anggap semua itu bagian yang wajib dalam ibadah shalat. Itulah akibat dari taqlid buta. Sebagian mereka selesai shalat bukan nya langsung beristighfar/berdoa dalam hati/dengan nada rendah, tapi malah sibuk menjulurkan tangan kesana kemari. Inilah bagian yang di sebut pembodohan juga.

Namun seseorang jika bersalaman setelah shalat bukan dalam rangka menganggap hal itu disyariatkan setelah shalat, namun hanya dalam rangka mempererat persaudaraan atau menumbuhkan rasa cinta, maka itu tidak mengapa. Karena memang orang-orang sudah biasa bersalaman untuk tujuan demikian. Adapun melakukannya karena anggapan bahwa hal itu dianjurkan setelah shalat maka hendaknya tidak dilakukan, dan tidak boleh dilakukan sampai terdapat dalil yang mengesahkan bahwa hal itu sunnah/di anjurkan.

Syaikh bin Baz menyatakan: pada asalnya bersalam-salaman itu disyariatkan ketika bertemu antar sesama muslim. Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasa menyalami para sahabat nya jika bertemu dan para sahabat juga jika saling bertemu mereka bersalaman.

Anas bin malik radhiallahu’anhu dan Asy sya’bi mengatakan:
para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika saling bertemu mereka bersalaman, dan jika mereka datang dari safar mereka saling berpelukan.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang artinya:
Tidaklah dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan berguguranlah dosa-dosanya sebagaimana gugurnya daun dari pohon.

Memang dianjurkan bersalam-salaman. Tapi bukan salam-salaman yang di rutinkan setelah shalat 5 waktu. Namun salam-salaman yang di perintahkan yaitu ketika bertemu di masjid atau di shaf atau di jalan atau dirumah tentunya salam-salaman/berjabat tangan yang di iringi ucapan salam yaitu salamun alaikum/assalamualaikum. Diantara hikmahnya juga ia dapat menguatkan ikatan cinta dan melunturkan kebencian.

Adapun bersalam-salaman hingga mencium tangan itu sebagai rasa hormat/patuh kepada seseorang. Ini hanya di anjurkan kepada orang-orang tertentu misal: Anak dengan orang tuannya/neneknya, istri dengan suaminya, menantu dengan mertuanya, murid dengan kiaynya. Namun murid tidak harus merutinkan selalu mencium tangan gurunya/kiaynya. Sesekali mencium nya tidak mengapa, namun jika di rutinkan setiap bertemu ini tidak ada tuntutan nya dan tidak di perbolehkan, apalagi bersalaman hingga mencium tangan kiaynya hingga di bolak-balik ini perbuatan gulluw. Inilah pembodohan. Dan sebaiknya kiaynya jangan malah senang tangan nya di ciumin. Dan kiay harus menarik tangannya jangan malah di sodorkan.

Gulluw di larang dalam islam karena bisa menyebabkan lebih tunduk dan patuh kepada manusia dari pada kepada Allah Subhana Wata’ala. Kalau semua itu baik tentunya Rasullullah yang akan melakukan hal tersebut pertama kali. Namun ternyata Rosullulloh melarang nya. Rasullullah Saw bersabda yang artinya:
Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.

Hal yang senada yang di larang selain mencium tangan di bolak-balik yang berlebihan, salah satunya yaitu lewat di depan orang dengan menundukan badan dan tangan di julurkan ke bawah. Jika mau lewat cukup katakan maap numpang/permisi/nyuwun sewu atau sejenisnya dengan menggerakkan nada tangan sedikit. Tidak perlu nunduk hingga membungkuk.

Terkait bersalam-salaman yang sebagian mayoritas masyarakat anggap bagian wajib shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang artinya:
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak (HR. Muslim no. 1718).
Dan masih banyak lagi hadits-hadits sahih yang semisalnya.

Comment

tags:

Populer post