27 Jumadil Akhir 1441 H

354 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: Dwiwap.com

Tidak bisa di pungkiri diantara umat islam pasti tidak luput dari yang namanya beda faham atau beda pendapat, hidup di akhir jaman memang rumit dan penuh tantangan juga liku-liku.

Imam syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak ulama yang membingungkan umat, sehingga umat bingung memilih mana ulama Warosatul Anbiya dan mana ulama Su’ yang menyesatkan umat.

Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?

Beliau menjawab: Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah.

Tidak usah menjadikan perkataan imam Syafi’i sebagai tolok ukur, anggap saja perkataan itu hanya untuk memberi jalan. Jadikan lah sebagai tolok ukur kita tetap Al-Quran dan hadits. Terkait semua itu dalam Qs Annisa 59, Allah memperingatkan kita jika beda pendapat suruh mengembalikan ke Al-Qur’an dan sunnahnya. Bukan di kembalikan ke kata guru, ke kata kiay dan sejenisnya. Namun bukan berarti penulis mengajak mengingkari guru, kiay dan sejenisnya.

Qs 59 tersebut yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Allah mengatakan jika ada beda pendapat diantara kalian suruh mengembalikan kepada Allah dan rosulnya. Lantas di akhir jaman itu tidak sedikit penulis jumpai jika ada perbedaan pendapat malah mereka kembali kan ke kata guru, ke kata kiay, ke kata ulama fiqih, ke ulama ini-itu dan sejenisnya? Memangnya mereka semua yang mendapatkan wahyu?.

Kita semua memang di suruh mengikuti mereka, tapi hanya sebatas mengikuti yaitu untuk menjadikan kitab kuning/karya mereka sebagai jalan untuk mempermudah memahami islam, bukan untuk menjadikan kitab karya mereka sebagai tandingan kitab suci Alquran apalagi menjadikan tolok ukur dalam beragama Islam.

Dan Allah dan rasulnya tidak pernah menyuruh untuk fanatik buta dan taqlid buta kepada mereka. Bahkan ulama yang mayoritas jadikan mazab pun melarang untuk taqlid buta kepada mereka. Lantas mayoritas malah mengingkari ulama yang mayoritas mereka jadikan mazab, tidak nyambung.

Sebenarnya dalam islam itu perbedaan tidak terlalu parah seperti di akhir zaman ini, kenapa bisa terjadi perbedaan yang terlalu parah?. Karena mungkin ada yang tidak beres mempelajari agama islam yang benar. Mungkin mempelajari tapi hanya bermodalkan taqlid buta kepada suatu pendapat ahli hukum/bidang tertentu.

Dan Allah juga berfirman yang artinya: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al An’am: 116)

Dalam ayat lainnya disebutkan.
Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Al A’raf: 187).

Dalam qs al an’am telah jelas Allah melarang mengikuti kebanyakan manusia dan mayoritas yang mengikutinya pun tidak mau melihat dasar dan alasan mayoritas tersebut membuat suatu perkara. Mengapa Allah melarang nya karena semua itu membuat taqlid buta dan fanatik buta.

Banyak penulis jumpai dari kalangan hamba tradisi, atau dari pengikut islam golongan terutama dari golongan Nu yang taqlid buta. Yang taqlid butanya bisa di bilang sudah kebangetan atau over dosis. Dan mata hati dan pemahaman nya benar-benar sudah terkunci mati dan sudah di perbudak pembodohan yang begitu sangat, terkadang penulis diskusi dengan mereka di buat terbodohi oleh sebagian mereka, mereka rata-rata menutup diri, jika di nasehati tidak mau dengar dahulu sampai selesai seseorang itu bicara, rata-rata mereka langsung memotong pembicaraan. Dan ngeyel dengan pembodohan mereka.

Bayangkan tidak sedikit penulis jumpai dari kalangan hamba tradisi yang awam tapi sok pintar, padahal sok pintar nya jika di tinjau dari islam yang kaffah hanya sebatas taqlid buta/mengikuti tanpa melihat dasar dan alasan orang terdahulu membuat suatu perkara. Dan penulis tinjau pun mereka mayoritas wawasan dan pengetahuan sangat minim, karena mereka rata-rata hanya bermodalkan pengetahuan apa dari kata guru-guru mereka.

Mayoritas mereka dalam hal apapun mereka tolok ukur nya apa kata guru, kiay, ustadz. Seperti mengatakan dulu guru saya ngajarin begini dan begitu dan seterusnya. Mereka bilang kita harus ngikut mereka, menghargai mereka dan menghormati mereka. Memang betul kita harus menghormati dan menghargai guru-guru sebagai pahlawan tanpa jasa.

Namun akibat kegagalan fahaman mereka atau kebodohan mereka, di kira orang yang lepas dari pengetahuan guru/kiaynya yang menyimpang dari syariat islam yang kaffah mereka anggap ingkar guru/tidak menghargai guru dan tidak menghormati nya. Bahkan ada juga hamba tradisi yang menuduh ingkar kitab kuning atau ingkar kitab karya ulama atau ingkar buku karya ulama terdahulu. Inilah pembodohan sebagian mayoritas mereka, semua itu akibat menutup diri, tidak mau belajar kembali ke fitrah, tidak mau mencari jati diri tidak hobi membaca, dan tidak hobi menerjang pembodohan. Mereka cukup kan belajar dengan kiay/guru yang mereka anggap sebagai tolok ukur.

Yang bikin ironis dan kebangetan dan terkadang bikin gemes, anehnya kok otak/pemikirannya sebagian mereka tidak berjalan. Kok tidak berpikir apakah jika guru itu menyelisihi syariat islam masih patut di ikuti, apa jika guru itu tidak mendapatkan petunjuk tetap di ikuti, apakah jika guru itu bunuh diri/nyemplung sumur/loncat dari tower gedung tinggi tetep di ikuti, coba pikirkan dengan pikiran tercerdas masing-masing.

Padahal Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an, terkait mengikuti guru atau mengikuti kiay atau  mengikuti ustadz  atau mengikuti ulama  atau yang paling di sanjung-sanjung oleh mereka yaitu mengikuti wali songo. Terkait itu semua Alloh Subhana wa taala telah memperingati kita dalam firmannya yang artinya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah! Mereka menjawab :(TIDAK), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (PERBUATAN) nenek moyang kami. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (Qs. Al-Baqarah:170).

Asbabun Nuzul qs tersebut:
Ibnu abi hatim meriwayatkan dari jalur said atau ikrimah dari ibnu abbas, dia berkata, Rasulullah mengajak dan mendorong orang-orang Yahudi masuk Islam. Beliau juga memperingatkan mereka akan siksa Allah. Maka Rafi bin Huraimalah dan malik bin auf berkata, ‘kami hanya akan mengikuti apa yang dianut nenek moyang kami karena mereka lebih tahu dan lebih baik dari kami. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Qs tersebut nyata seperti yang terjadi saat ini, seperti yang kebanyakan di katakan oleh umat islam mayoritas atau terutama dari golongan Nu nya yang penulis katakan di atas.

Banyak dari hamba tradisi ketika diskusi atau ketika lagi ngobrol-ngobrol tentang agama kepada penulis, mereka menyarankan belajar harus dengan guru, jangan lewat baca buku. Inilah akibat pembodohan mereka yang begitu sangat luar biasa. Padahal perintah yang pertama kali di perintahkan oleh Allah kepada Nabi adalah Iqra/bacalah. Dengan membaca pengetahuan kita akan berkembang meskipun hanya tau untuk diri sendiri, dengan membaca kita bisa termotivasi, dengan membaca akan tau pengetahuan yang di luar kita ketahui, dengan membaca kita bisa mengolah ragakan otak, dengan membaca kita bisa menemukan ide dan opini yang ilmiah dan masih banyak lagi manfaat membaca.

Berguru Itu bagus, itu sangat di anjurkan, dan  bahkan mungkin di wajibkan, namun menurut penulis berguru atau belajar kemana saja itu boleh, berguru/ belajar tidak harus hanya kepada ustadz yang di fens atau di taqlid-i saja. Berguru dan belajar bisa dimana saja.

Masalah dalam memahami apa yang di sampaikan setiap guru baik guru dari A, B, C dan seterusnya itu tergantung kita sendiri kita bisa mencerna mana yang baik dengan yang tidak baik, jangan langsung di telan. Tapi di telaah dahulu akan kebenarannya, masing-masing kan kita di beri akal dan pedoman Qur’an. Alqur’an menjelaskan qur’an itu pedoman bagi orang yang mau berfikir atau berakal, Jika ada keganjalan dalam apa yang di sampaikan guru maka kita bisa cocokkan dengan pedoman kita yaitu Al-Qur’an dan hadits. Bukan di cocok kan ke katanya-katanya, atau kata guru saya, kata kiay saya, kata ustadz saya dan satu lagi kata wali songo.

Tapi sayang tidak sedikit orang-orang yang takut untuk mempelajari Qur’an sendiri, bahkan tidak sekali dua kali penulis jumpai orang mengatakan jangan belajar qur’an sendiri, baik itu belajar dari buku maupun sejenis nya nanti bisa tersesat. Penulis katakan dalam hati, hanya orang yang taqlid butanya kebangetan bin b***h saja yang mengatakan demikian. Padahal sudah jelas-jelas banyak Qs mengajak untuk berpikir untuk mentadaburinya.

Guru tidak bisa di jadikan tolak ukur? Karena banyak kok guru-guru yang pemahamannya hanya mengikuti taqlid buta. Bahkan tidak sedikit penulis jumpai guru di sekolah itu dalam segi pengetahuan dan wawasan masih kurang, tidak sedikit penulis jumpai tidak jauh beda nya dengan lulusan Sd, padahal mereka rata-rata d3 hingga S1, namun wawasan maupun pengetahuan tentang agama maupun pengetahuan lainnya masih sebatas katanya-katanya, atau masih kurang, karena mereka mayoritas hanya mempelajari apa yang di ajarkan gurunya di tempat sekolah, di tempat kuliah maupun di pondoknya. (maap bukan berarti saya sombong atau merasa lebih pinter dari mereka). Penulis menyadari penulis mungkin tidak lebih baik dari mereka. Namun setidaknya penulis sudah menyadari siapa lah diri ini= baca di propil.

Coba andaikan mereka belajar juga di luar yang di ajarkan gurunya penulis yakin makin cerdas dan pintar apalagi daya ingat dan hapalan nya tajam. Kalau penulis jujur daya ingat dan hapalan nya lemah, penulis lama bisa namun mudah lupa.🤭

Dan di sebagian guru di pengikut islam golongan atau yang mereka sebut ormas islam terutama dalam golongan Nu mereka malah banyak penulis jumpai yang mengajarkan untuk meyakinkan/mengajak kedalam kebid’ahan dan Kurafat-kurafat dll. Padahal yang wajib dan sunnah masih banyak yang di abaikan, dan ada lagi penulis jumpai guru prasejarah di smp/mts begitu semangatnya mengajarkan progam orentalis seperti bahwa manusia itu berasal dari monyet dan sampai sekarang itu masih di ajarkan. Dan tidak sedikit anak sekolah yang menyadari bahwa dirinya sedang di bodohin atau setidaknya adanya yang mengingatkan. Namun bagaimana mau mengingatkan la mayoritas yang dewasa pun tidak menyadari bahkan hampir semua orang tidak menyadari. Maksut penulis semua orang yang khusus nya yang taqlid buta.

Dan apakah semua itu mau tetap anda ikuti? Wahai hamba tradisi, coba pikirkan sejenak, masih kah anda mau di perbudak bid’ah dan pembodohan. Maap agak keras ini tulisan, sebagai mana keras kepala nya anda dalam pembodohan. Mau pembaca cap sombong silahkan. Namun yang jelas lebih sombong orang yang menolak kebenaran dan mempertahankan keras kepalanya dalam kebid’ahan dan pembodohan.

Terkait manusia ada yang dari monyet jika mereka tidak mengutamakan taqlid buta, penulis yakin mereka pasti dalam hatinya bertanya-tanya. Yang guru satunya mengatakan manusia itu berasal dari nabi Adam kok yang guru satunya mengatakan manusia dari monyet. Begitu pula dalam pemahaman agama dalam tata cara beribadah, kita harus mencontoh nabi, jika nabi tidak mencontohkan atau melakukan jangan di kerjakan. Seharunya hati kita juga bertanya-tanya terkait beribadah, nabi tidak nyontoin dan Allah tidak memerintahkan ngapain di lakukan, seharusnya hati kita bertanya-tanya demikian. Adapun mengikuti pendapat guru/ustadz/kiay boleh-boleh selama tidak menjadikan tandingan firman Allah dan hadits, islam sudah di cap sempurna/udah di sempurnakan ketika itu tidak perlu di tambah-tambah dengan ibadah karya ulama. Mengikuti ulama di anjurkan namun bukan ulama Su’ yg menghalalkan yang haram atau ahli bid’ah.

Dari itu kita harus berpikir sebagai mana opini terkait manusia yang satu mengatakan dari monyet sedangkan yang satunya mengatakan dari nabi adam. Begitu pula kita harus berpikir dalam tata cara beribadah: Nabi dan para sahabat saja tidak melakukan bid’ah kok kalian malah menggemari.😇🤦🙏🏻

Comment

tags:

Populer post