6 Sya'ban 1441 H

535 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Oleh: DWIWAP.COM

Fanatik adalah perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan.

Semua ini penulis jumpai di mayoritas orang dan mayoritas umat islam atau kebanyakan, karena mereka condong fanatik ke ulama tertentu, fanatik ke golongan tertentu, fanatik ke mazab tertentu, dan fanatik ke manhaj tertentu. Bahkan itu semua bukan hanya di katakan fanatik, tapi bisa di sebut fanatik buta.

Kenapa di sebut fanatik buta karena mereka condong keras ke golongan tertentu, mazab tertentu dan manhaj tertentu dan menutup rapat-rapat telinganya dan mata hatinya dari opini/ide yang di anggap nya bertentangan.

Selagi condong membela yang benar sesuai sariat yang di tentukan Allah dan Rosulnya dan tidak condong ke golongan tertentu, mazab tertentu dan manhaj tertentu, itu namanya bukan fanatik. Kalau toh mau bersikeras di klaim fanatik juga. Maka penulis katakan fanatik buta hanya boleh kepada Allah dan Rosulnya.

Dan taqlid yaitu keyakinan suatu faham pendapat ahli hukum yang terdahulu yang di percaya namun seseorang yang berkeyakinan tersebut tidak mau melihat dasar alasan ahli hukum tersebut membuat suatu perkara. Taqlid tidak boleh, ini berlaku bagi yang awam maupun tidak, yang boleh itiba’ kalau toh mau ngeyel tetep mau taqlid. Taqlidlah dengan hal yang di sariatkan oleh islam Yaitu taqlid kepada Alqur’an dan hadits yang sahih, atau taqlid kepada Allah dan rosulnya, tidak boleh taqlid ke hal yang menyelisi sariat islam dalam kata lain di larang taqlid, taqlid bisa mematikan kreativitas ketajaman hati dan ketajaman pikiran.

Kenapa bisa di sebut taqlid buta karena seorang itu benar-benar keras kepala memegang teguh tradisi-tradisi yang di campurkan ke dalam syariat islam oleh orang terdahulu yang mereka yakini dan bersikeras mempertahankan pemahaman tersebut dan bersikeras memegang teguh pendirian nya, padahal pemahaman nya menyelisihi syariat seperti mengklaim adanya bid’ah hasanah.

Agama islam memerintahkan para pemeluknya untuk mengikuti dalil dan tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid kecuali dalam keadaan darurat (mendesak), yaitu tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil dengan pasti. Hal ini berlaku dalam seluruh permasalahan agama, baik yang terkait dengan akidah maupun hukum (fikih). Oleh karena itu, seorang yang mampu berijtihad dalam permasalahan fikih, misalnya, tidak diperkenankan untuk bertaklid. Demikian pula seorang yang mampu untuk meneliti berbagai nash-nash syari’at yang terkait dengan permasalahan akidah, tidak diperbolehkan untuk bertaklid.

Taqlid boleh dengan catatan selama keadaan terdesak. Yang di larang taqlid buta terhadap suatu pemikiran, seperti kepada madzhab, kepada prinsip golongan, kepada tradisi, juga taqlid buta kepada tokoh tertentu seperti kepada ulama tertentu, kepada tokoh tertentu, kepada nenek moyang tertentu, atau kepada orang yang dianggap mulia tertentu, ini dapat menghalangi seseorang untuk mengikuti dalil dan mengetahui kebenaran. Hal ini disinggung dalam Al Qur’an:

Dan apabila dikatakan kepada mereka :
Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh! Mereka menjawab :(TIDAK), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (PERBUATAN) nenek moyang kami. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?(Qs. Al-Baqarah:170).

Kesimpulannya terkait fanatik. Fanatik itu hanya boleh kepada Allah dan rosulnya dan juga terhadap islam yang kaffah, namun tidak harus menutup diri dari opini/ide terhadap di luar yang sepaham, karena tidak semua yang tidak sepaham itu tidak ada benarnya, dan tidak boleh fanatik kepada selain Allah dan rosulnya. Dan taqlid juga boleh, tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil dengan pasti. Namun tidak harus nyampe taqlid buta kepada suatu faham pendapat tertentu.

Fanatik dalam pandangan orang awam.

Fanatik/fanatisme menurut pemahaman umum adalah paham atau keyakinan atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan.

Sedangkan fanatik menurut orang awam baik itu yang berpendidikan tinggi maupun rendah yaitu untuk menyebut seseorang yang berlainan pendapat yaitu yang di tujukan kepada orang yang condong mempelajari syariat islam yang murni atau mengkritisi tradisi-tradisi dan bid’ah. Biasanya pemahaman versi ini sering di ucapkan oleh kalangan mayoritas pengikut islam golongan Nu terutama yang islam ktp yang memiliki jiwa keras dan sudah lepas dari syariat islam namun mereka tiada menyadari.

Perlu di ketahui selagi fanatik tersebut tidak menyelisihi syariat islam dan tidak menyebabkan menutup diri dari ide/opini yang tidak menyimpang dari sariat islam itu tidak bisa di sebut fanatik, karena mereka berusaha menegakkan ajaran Allah dan rasulnya. Dan toh mau tetap di sebut fanatik, katakan fanatik hanya boleh kepada Allah dan rasulnya.

Namun jika seseorang yang memiliki ketertarikan dan keyakinan kepada suatu faham baik faham itu menyelisihi sariat islam atau tidak, selama itu condong menutup diri maka itulah yang di sebut fanatik.

Kalau tidak menutup diri, dan masih mau menerima opini/ide di luar yang sepaham selagi tidak menyelisihi sariat islam, meskipun mereka condong kepada suatu faham, mereka tidak bisa di katakan fanatik.

Misalnya, penulis adalah seorang pengkritik tradisi dan bid’ah. Apakah penulis bisa di katakan fanatik? Tidak. Karena penulis tidak menutup diri dan masih mau mendengarkan opini/ide di luar yang penulis pahami. Contoh penulis masih mau mendengarkan ceramah-ceramah golongan ustadz-ustadz ahli bid’ah selagi yang di ceramahkan atsu di sampaikan itu tidak berbau bid’ah atau syubhat-syubhat yang menyesatkan, kalaupun itu berbau bid’ah hanya untuk sekedar tau saja. Namun jika penulis ingin di sebut fanatik juga. Perlu anda ketahui penulis hanya fanatik kepada Allah dan rosulnya/islam yang kaffah dan murni. Bukan fanatik kepada golongan tertentu, mazab tertentu, ulama tertentu, manhaj tertentu dan sejenisnya.

Lain halnya kepada mereka yang benar-benar fanatik mereka condong menutup diri, tidak mau mendengar opini/ide di luar yang sepaham dengan mereka. Contoh golongan Nu akan condong dengar-dengar ceramah yang berbau lawakan, orang-orang yang mereka sebut salafi akan menyimak dakwah ustadz yang sepaham dengan mereka saja, dakwah ustadz di luar yang sepaham di vonis dakwahnya berbau syubhat dan bid’ah semua.

Pertanyaan apakah dakwah golongan Nu itu ada yang tidak berbau bid’ah dan syubhat? Jawaban nya ada yaitu 100 banding satu seperti dakwah yang berkaitan dengan motivasi dan sejenisnya.

Bersambung

Comment

tags:

Populer post