11 Syawwal 1441 H

 334 total views,  1 views today

Oleh: Dwiwap.com

Di dunia maya maupun di dunia nyata terutama di dunia nyata ada beberapa orang menuding penulis munafik.

Jawaban penulis, mengenai tudingan munafik: Penulis katakan kepada orang yang menuduh penulis munafik: memang penulis akui, penulis memang tidak lepas dari kata munafik itu, namun semua itu sudah penulis sadari atau penulis katakan di propil di website ini. Silahkan di baca itu ungkapan penulis yang sebenarnya tidak bisa di pungkiri bahwa tulisan sebagian adalah wakil diri kita yang sebenarnya, jadi propil yang penulis, tulis itu sedikit mewakili secara sepintas. Meskipun ada beberapa orang yang hanya bermodal dusta. Misal jika berbicara di dunia maya di persantun namun aslinya di dunia nyata tidak santun, ada yang kata-katanya pura-pura bijak, namun aslinya tidak bijak dan sejenisnya namun kita doakan saja semoga menjadi orang bijak dan santun beneran. Aamiin.

Jika yang mengatakan penulis munafik adalah orang yang benar-benar beriman dan bertaqwa, istiqomah, jujur, rendah hati, pemaap, dermawan, sholat 5 waktu bagi yang lelaki selalu berjamaah jika tidak ada uzur sar’i, tidak sombong, tidak dengki, dan seorang yang cerdas, berpengetahuan luas, berwawasan luas atau setidaknya tidak lebih bodoh dari penulis dan memiliki sifat baik lainnya. Maka penulis sangat senang anda katakan munafik. Dan justru penulis ingin sekali anda hujat dengan hujatan yang terserah anda terutama dengan tudingan munafik.

Namun jika yang mengatakan penulis munafik adalah orang awam, orang bodoh, malah hobi membodohin diri/nunjukin pembodohan, islam ktp, giliran amalan bid’ah di kerjakan, bukan islam ktp tapi sholat 5 waktu selalu di akhir waktu/mengundur-undur waktu, memiliki sifat sombong yang tidak mereka sadari, iri-dengki, pelaku bid’ah, sombong, riya’, keras kepala dalam pembodohan, lebih ngutamain bid’ah dari pada yang wajib dan sunnah baik itu yang mengatakan ustadz/siapapun, baik yang ngaku manhaj salaf/pun islam golongan tapi anak-anak perempuan nya tidak di suruh berbusana syar’i atau kehidupan nya masih meniru gaya orang kafir, masih suka ngerayain ulang tahun baik ulang tahun nabi/pun keluarga nya dan sebagainya. Maka penulis katakan andalah yang munafik.

Namun sebenarnya tidak baik membalas hujatan dengan hujatan, namun tidak bisa di pungkiri ini tidak di miliki oleh sembarang orang, penulis sendiri yang sudah berusaha untuk tidak membalas dengan hal yang sama namun belum mampu. Mungkin tidak sedikit diantara kita, orang menghujat kita balik menghujatnya, tidak sedikit diantara kita di sombongin bales dengan lebih sombong, tidak sedikit diantara kita cuek kita bales dengan lebih cuek bebek, tidak sedikit orang diantara kita di cubit di bales dengan pukulan dan sejenisnya. Ini perumpamaan.

Namun setidaknya kita sudah berjuang jatuh bangun untuk menghindari semua itu/untuk tidak balas dengan hal yang serupa, dan setidaknya pula kita menyadari kekurangan dalam diri kita. Namun tidak sedikit orang yang menyadari kekurangan pada dirinya seperti yang penulis maksut. Sedikit contoh, BANYAK orang yang penulis tinjau dari segi dunia psikologi, sebenernya seseorang itu setres, depresi atau terkena gangguan jiwa sedikit atau bahkan depresi berat. Namun pengetahuan ini tidak di miliki semua orang baik itu yang bertitel tinggi atau berpendidikan tinggi, kecuali orang itu punya ilmu di bidangnya atau seseorang itu punya rasa ingin tahu yang tinggi akan ilmu pengetahuan/ide/opini yang di luar yang di ketahuinya.

Harapan penulis yang belum tau mengenai kekurangan dalam dirinya setelah membaca artikel ini semoga menjadi tau. Dan bersyukurlah bagi anda yang saat kebetulan membaca artikel ini dan sudah menyadari akan kekurangan dalam diri anda sebagai mana yang penulis maksut. Setelah anda tau semoga anda tidak lagi/ menutup diri/sombong merasa sudah banyak ilmu pengetahuan tentang agama. Perbanyak lah belajar dan terus belajar, seorang ustadz yang cerdas yang banyak hapal ayat Qur’an maupun hadits ples terjemahan nya saja masih terus belajar, apa lagi kita yang orang awam.

Penulis walaupun tidak ahli di bidang pengetahuan psikologi namun penulis bisa tau seseorang itu melalui nada bicara/gaya bicara, sifatnya, gerak-gerik nya, dari sinar matanya, dari raut wajahnya dan biasanya orang tersebut tidak suka di nasehati/mereka tidak nyaman ketika mendengar seseorang itu berbangga diri/sok pintar di depannya, raut wajahnya akan menunjukkan ketidak nyamanannya, mereka berusaha akan memalingkan muka, atau menggerakkan nada baik dari mulut, sinar mata, sinar wajah atau badannya untuk menunjukkan ketidak sukaannya/ketidak nyamanannya tersebut. Percaya atau tidak silahkan di buktikan, kalau penulis sudah membuktikan, baik itu kepada yang berpendidikan ataupun kepada yang tidak berpendidikan, namun rata-rata yang penulis tes itu orang berpendidikan tinggi seperti polisi, guru, dosen dan yang bertitel S1-S2 an lain nya. Namun orang awam/tidak berpendidikan tidak sedikit lebih parah tingkatkan gangguan jiwanya dari yang berpendidikan tinggi, semua itu berbeda-beda.

Penulis pun merasakan depresi, namun penulis tidak seperti kebanyakan orang, karena penulis tidak menutup diri, penulis masih mau membuka diri seperti sering dengar ceramah-ceramah nasihat-nasihat dari beberapa ustadz, sering dengar murattal ples terjemahan, sering mendengar tilawah. Penulis jika ada orang menasehati dan orang tersebut sok pintar walaupun penulis tinjau seseorang itu bodoh, penulis pun sering nya merendah, dan mengiyakan setiap bait kata yang di ucapkan oleh orang yang penulis anggap awam dan depresi tersebut.

Penulis lebih banyak ngalah ketimbang menyanggah, penulis kebanyakan mendengarkan nasehat orang tersebut dan tidak menunjukkan nada gerak sebagai tanda tidak kenyamanan seperti yang penulis sebutkan di atas. Namum adakalanya juga penulis menyanggah seperti dalam tulisan yang penulis beri judul ”bertemu salafi yang sok pintar”.

Namun menurut penulis ketingkatan atau keparahan depresi seseorang itu berbeda-beda namun sedikit bisa di lihat dari beberapa sifat yaitu biasanya orang tersebut tidak senang di nasehati, di kritik dan di sejenisnya. Dan juga biasanya orang tersebut tidak hobi mendengarkan ceramah-ceramah yang ilmiah yang bersifat nasehat dan juga tidak hobi mendengarkan murattal ples terjemahan maupun mendengarkan tilawah. Mereka jika mendengarkan bacaan Qur’an atau tilawah atau murattal atau ceramah-ceramah ilmiah biasanya telinganya tidak nyaman, memalingkan diri dan menghindari persis seperti setan kepanasan. Namun nauzubillah ketika mereka nonton sinetron, nonton berita dan mendengar musik mereka hayati dari lubuk hati yang terdalam. Itulah kebodohan mayoritas. Sudah bodoh mereka tidak mau menerjang kebodohan tersebut.

Mari kita lanjut.
Sifat manusia bila dicaci, di hujat atau di jelek-jelekkan pasti dia akan marah ia ingin membalas dengan cara mencacinya kembali siapa hati yang tidak panas membara dan tak sakit hati.
Tapi membalas dengan yang serupa tidak ada gunanya karena kebodohan tidak baik bila dibalas dengan kebodohan lagi lihatlah anjing itu gonggongannya tidak digubris orang, tapi lihatlah singa itu diamnya membuat ia ditakuti. (yang ini untuk nasehat penulis sendiri ya). Hehe.

Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jika ada orang yang mencacimu dengan aib yang ia ketahui ada padamu janganlah kamu balas mencacinya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya karena pahalanya untukmu dan dosanya untuk dia. (HR Ahmad).

Namun perbuatan ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang yang bersabar dan berjiwa besar. Yuk buat para pembaca yang kebetulan membaca artikel ini kita saling belajar untuk menjadi berjiwa besar. Sedikit contoh mohon maap jika salah contoh, misal jika bertemu kepada orang yang kita kenal/sepintas kenal/pernah kita kenal tentu lelaki sesama lelaki/perempuan sesama perempuan, dan kita berikan senyuman dan ucapkan kepada mereka: Assalamualaikum…

Namun penulis yakin dengan ucapan salam tersebut yang diantara kita yang tadinya sedikit slek karena beda paham/perkara lainnya, jadi saling membahagiakan atau membuat tersenyum lagi. Namun tidak semua orang mampu mengucapkan salam ini kepada orang yang mereka dengki kecuali orang-orang yang berjiwa besar, penulis pun mungkin belum mampu, kalau penulis sih memang pendiem jangan di tiru hehe, bencanda pembaca. Namun setidaknya sudah menyadari dan sudah berusaha untuk menjadi seperti apa yang penulis ucapkan/nasehatkan ke orang lain. Meskipun belum berhasil, hehe. Bercanda pembaca merendah itu bagus kok.

Kebanyakan orang, baik itu orang alim/ustadz/atau masyarakat biasa mengucapkan salam hanya kepada orang yang mereka akrap saja betul tidak pembaca? Jarang ada diantara kita, orang dengki/orang cuek/orang yang kita anggap sombong kita ucapin salam kepada mereka betul tidak pembaca? Wah mohon maaf jadi lebay nih, tidak apa-apa biar tidak terlalu tegang bacanya.

Mari kita renungkan Qs dan hadits berikut ini. Perintah Allah dalam firman-nya, yang artinya:
Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. (Qs. An Nur: 61).

Dan sabda Rasullullah SAW:
Dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian. (HR. Muslim).

Dari Abdulloh bin Salam, Rasulullah bersabda, Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. (Shohih. Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Semoga kita semua yang membaca artikel ini termasuk orang-orang yang sabar serta berjiwa besar. Aamiin

Astaghfirullah…Sekali lagi marilah kita menyadari akan keburukan dalam diri sendiri, sadarilah bahwa diri anda atau kita masih memiliki sifat egois, sombong, angkuh, berbangga diri, jika anda sudah menyadari dan mengoreksi diri. Maka silahkan anda mengkritisi tradisi yang di cap oleh mayoritas bagian dari syariat islam seperti penulis.

Namun tentunya anda harus memraktekkan dahulu sebelum berbicara. Misal anda mengingkari bid’ah maka tunjukkan di masyarakat dunia nyata bahwa anda mengingkari bid’ah jangan seperti kebanyakan yang ngaku ahli sunnah di dunia maya mengatakan mengingkari namun di dunia nyata saling menghormati dan menghargai dalam hal kebid’ahan bahkan tidak sedikit penulis jumpai mereka malah terbawa arus oleh ahli bid’ah. Akhirnya menjadi pelaku bid’ah, namun ironisnya di dunia maya maupun dunia nyata ngaku ahli sunnah.

Kenapa penulis berani mengatakan bid’ah itu sesat, karena dalam kehidupan penulis benar-benar mengingkari, namun jika anda mengatakan bid’ah itu sesat namun tidak mengingkari dengan terang-terangan, bahkan dalam kehidupan anda masih seperti orang kafir mungkin dalam berpakaian muslimah belum benar/masih jilbsi, baik anak-anak anda maupun anda, dan anda masih menghormati orang berbuat bid’ah alasan takut di benci, takut tidak di teman, alasan kita mahluk sosial dan sebagainya hanya untuk tujuan menghargai dan menghormati orang berbuat bid’ah. Maka penulis katakan juga andalah yang munafik.

Mohon maaf tulisan yang belepotan ini bukan dalam rangka menghujat, iri, dengki, dan sejenisnya, ini hanyalah ungkapan bahwa kita manusia biasa yang fakir ilmu yang terkadang iman naik dan terkadang turun namun banyak turun nya setidaknya kita jangan pernah menuduh orang itu munafik jika diri kita lebih munafik dari yang kita tuduh.

Sekali lagi penulis mohon maaf kepada para pembaca yang tidak berkenan membaca artikel ini, baik itu saudara, tetangga atau siapapun. Di dalam artikel ini penulis tidak menuduh menyebut nama seseorang/memvonis seseorang menuding penulis munafik, jika toh penulis menyebut kelompok, golongan dengan sebutan misal ahli bid’ah/ahli sunnah, namun penulis tidak menyebut nama seseorang, jadi tidak perlu tersinggung, lebih baik belajar koreksi diri, apakah diri kita ini munafik atau tidaknya, tentunya yang tau diri kita sendiri dan Allah Subhana Wa taala. Melalui malaikat-malaikat yang di tugaskan nya.

Allah berfirman yang artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf/50:16-18).

Comment

tags:

Post populer