6 Sya'ban 1441 H

435 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: Dwiwap.com

95% mayoritas yang menamakan salafi juga fanatik buta dan menutup diri dari opini/ide di luar yang sepaham, tidak jauh bedanya dengan fanatik butanya dari mayoritas golongan NU dan lainnya. Jika demikian yang terjadi apa bedanya yang minoritas yang menamakan salafi dengan pengikut islam golongan terutama golongan Nu.

Mereka salafi mayoritas keras dalam kefanatikan, keras menutup diri dari opini/ide dari yang tidak sepaham atau keras takut terkena syubhat, dan sejenisnya, mereka yang di sebut salafi mayoritas keras seperti pengikut islam golongan terutama golongan Nu yang benar-benar menutup diri dari ide/opini yang tidak sepaham. Padahal tidak semua dakwah, ide/opini yang tidak sepaham itu tidak ada kebaikan nya. (maap mayoritas berarti bukan memvonis semua, pembaca jangan sampai ada yang gagal faham).

Apa yang penulis katakan ini kenyataan, ucapan penulis bisa di buktikan, ini terjadi dalam kebanyakan masyarakat awam maupun tidak, namun ada beberapa yang tidak menutup diri.

Coba anda ajak seorang dari golongan Nu/golongan apapun yang masih menghalalkan bid’ah/mengklaim adanya bid’ah hasanah untuk ikut pengajian di majlis taklim atau mendengarkan ceramah-ceramah dakwah sunnah yang ilmiah dari awal hingga selesai. Mau tidak mereka? penulis rasa mereka tidak akan mau, karena alasannya dakwah nya keras, mengkafir-kafirkan dan sejenisnya. Namun mereka yang cerdas yang tidak menutup diri tidak akan mengatakan demikian. Mayoritas mereka menutup diri namun ada beberapa orang yang tidak menutup diri, tentunya mereka yang punya rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mendapatkan hidayah sunnah.

Terkadang sebagian mereka yang mengatakan dakwah sunnah keras penulis sanggah atas kegagal fahamnya, penulis katakan kepada mereka, mereka dakwahnya bukan keras, tapi ilmiah dan tegas untuk mengajak memurnikan islam, menumpas bid’ah, tahayul, kurafat dan kemusrikan. Namun yang mereka sebut salafi pun masih terjebak keras dalam kefanatikan butaan seperti islam golongan terutama golongan Nu.

Dan sebaliknya yang salafi suruh nyimak ceramah-ceramah ustadz dari pengikut islam golongan terutama dari Nu, mau tidak? penulis rasa tidak ada yang mau, karena alasan nanti terkena syubhat dan ada yang bilang kita kan sudah bener ngapain denger yang lain. Memang benar syubhat menyambarnya tiada ketara bahkan bagaikan kilat, namun dakwah mereka tidak semua berbau bid’ah dan syubhat. Penulis pun percaya dengan fatwa-fatwa ulama terdahulu mengenai larangan bermajelis dengan ahli bid’ah, namun setidaknya dunia yang sudah serba canggih ini, kita membuka diri mendengarkan tidak apa-apa, tidak harus dengan bermajelis namun bisa lewat media seperti yutube dan sejenisnya. Untuk sekedar menambah pengetahuan. Namun harus panda-pandai membedakan mana yang ilmiah dengan mana yang tidak ilmiah, mana yang syubhat dengan mana yang tidak syubhat, jika tidak bisa membedakan mana syubhat dengan tidaknya, masih banyak cara lainnya. Intinya jangan sampai menutup diri dari ide/pun opini dengan yang tidak sepaham secara total.

Karena tidak semua yang tidak sepaham yang di dakwah kan seorang ustadz ahli bid’ah, itu tidak ada kebaikan nya atau tidak semua tentang yang berbau syubhat dan bid’ah.

Untuk pengikut islam golongan terutama nu yang keras dalam keawamannya, keras dalam kebid’ahannya, keras dalam pembodohan nya, keras dalam ketaqlid butaannya, keras dalam ke fanatik butaannya, keras terhadap memegang teguh tradisi nenek moyang nya, dan sejenisnya, maka penulis tangkis dengan keras melawan arus balik faham mayoritas, yang tidak lepas dari dua petunjuk Qur’an dan hadits yang sahih.

Berdasarkan apa yang penulis maksud diatas penulis tidak ada maksut merendahkan atau memojokkan salah satu faham di atas tapi penulis mengajak untuk netral. Yang di maksud netral di sini bukan berarti di ajak melakukan bid’ah kita nurut, misalnya di ajak tahlilan, maulid, tawasulan dan sejenisnya kita ikutin kemauan mereka bukan seperti itu, atau ketika di wanti-wanti oleh ustadz sunnah/salafi, ”hati-hati kena syubhat” lantas anda tidak mau lagi mendengar dakwah di luar yang sepaham. Bukan seperti itu, tapi netral yang penulis maksut, janganlah kita menutup diri dari pengetahuan yang di sampaikan ustadz A hingga Z karena disana ada ilmu pengetahuan dan wawasan yang ilmiahnya juga.

Jika mayoritas umat islam keras kepala dalam pembodohan yaitu mengutamakan yang bid’ah menomor duakan yang wajib dan sunnah, maka penulis yang belum mampu melaksanakan yang wajib dan sunnah dengan sepenuhnya namun setidaknya penulis berani mengingkari bid’ah dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi dan tidak menomor duakannya yang wajib dan sunnah.

Keras dalam kebenaran yang berdalil lebih baik dari pada keras dalam kesesatan yang tiada ketara/bid’ah. Dan jika diantara anda ingin bersikeras untuk fanatik buta dan taqlid buta. Maka fanatik butalah hanya kepada Allah dan rosullnya. Untuk menghasilkan islam yang murni dan kaffah.

Buat yang salafi, mta, muhamadiyah, Al-Irsyad, hasmi, persis dan golongan ahli sunnah lainnya jika keras merasa benar sendiri, selagi itu ada dalilnya, baik dalil Qur’an maupun hadits yang melarang atau memerintahkan maka keras dalam hal itu tidak mengapa. Namun menutup diri itu tidak bagus karena itu membuat fanatik buta dan salah satu sombong yang tiada ketara.

Hati-hati gagal faham terhadap kata keras…😇🙏.

Comment

Populer post