11 Syawwal 1441 H

 322 total views,  1 views today

Oleh: Dwiwap.com

Ada yg bertanya mas Dwi belajar dari mana? Penulis jawab: belajar dari Allah. Terkait semua itu Allah berfirman yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al’Alaq: 1-5).

Eforia hari guru sudah berlalu, apa yang didapat? Stagnasi, kemandegan, tidak ada kemajuan pemahaman, jumud. Bahkan jikapun Tuhan yang bicara..!
Guru manusia adalah Tuhan! “Yang mengajarkan kepada manusia dengan perantaraan kalam”. “Yang mengajarkan kepada manusia apa apa yang tidak diketahuinya”
Itulah sebabnya dalam beragama, kebanyakan manusia itu menjadi sesat…! Karena metode yang disodorkan dan digunakan itu menyimpang: manusia diperintahkan untuk berguru kepada Tuhan, tapi ditakut-takuti, diolok-olok, supaya berguru kepada pemuka agama dan meninggalkan tuhan.

Begini, kalau seorang dosen memberikan pengajaran, ia akan menyebut beberapa diktat (buku acuan) yang harus dipelajari. Seorang dosen memberi pelajaran dengan mengacu kepada rumusan-rumusan dari ilmuwan yang akan DIDISKUSIKAN dengan mahasiswanya.
Pernahkah seorang kyai, ulama, ustadz yang MENDISKUSIKAN AYAT dengan ‘muridnya’ seperti dosen yang berdiskusi tentang sebuah rumus? Jika tidak, ia telah bertindak menggantikan posisi Tuhan!

Dosen dapat menerima kritikan-kritikan dan masukan dari mahasiswanya secara terbuka, dapatkah kyai dan ustad dikritik.

METODE PENGAJARAN AGAMA telah MENGARAHKAN UMAT KEPADA KESESATAN dengan pembelokan sumber pemahaman.. !
Jika menginginkan umat menjadi ‘lurus’ gunakan metode dosen dalam pengajaran agama. Diskusikan ayat dengan muridnya?
Bisakah? Sulit, jika masih berniat memberikan pengaruh kepada manusia..

Comment

tags:

Post populer