26 Jumadil Akhir 1441 H

495 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Oleh: Dwiwap.com

Aku benci dengan bid’ah, aku muak dengan bid’ah, aku juga benci dengan orang berbuat. Karena pelaku bid’ah mayoritas pemahaman nya membodohin diri dan nunjukin pembodohan.

Bid’ah lebih disukai iblis dari pada kemaksiatan lainnya, karena pelaku bidah tidak merasa dirinya berbuat salah dan sulit untuk bertaubat, sedangkan pelaku maksiat lainnya mudah untuk bertaubat dan menyadari bahwa dirinya berbuat kesalahan.

Selain bid’ah itu di sukai iblis, bid’ah juga menyebabkan terpecah belah antar sesama muslim, membuat hubungan renggang, slek antar kerabat, tetangga bahkan juga antar saudara sekandung itulah mengapa, Rosullulloh memperingatkan dan mewanti-wanti untuk menjauhi bid’ah dalam salah satu haditsnya yang di riwayatkan oleh abu Dawud beliau bersabda yang artinya: Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.

Dan juga itu sebabnya Rasullullah menyuruh menghindari bid’ah, karena bid’ah biang kehancuran dan perpecahan, itulah kenapa sebabnya bid’ah lebih di sukai iblis dan setan, karena bid’ah paling mudah untuk mengadu domba dan menyesatkan manusia yang tiada ketara, namun pelakunya tidak merasa tersesat sedikitpun. Selain bid’ah menyebabkan seperti yang penulis sebutkan diatas bid’ah juga bisa mematikan sunnah bahkan yang wajib.

Coba perhatikan disekitar, ketika ngamalin bid’ah mereka pada datang semua islam KTP pun yang biasa judi, mabok, dan sebagainya kompak datang nyamar seperti orang alim gunakan sarung, busana muslim dan kopyah putih. Giliran yang wajib dan sunnah mereka pandang sebelah mata, coba anda perhatikan ketika azdan telah tiba apa mereka ada yang buru-buru mendatangi untuk shalat berjamaah jangan kan yang islam ktp, yang tidak islam ktp saja jarang yang mendatangi nya mayoritas manusia berat dengan aktivitas nya dari pada menyempatkan panggilan Allah, namun giliran itu perkara bid’ah/kesesatan di datangi buru-buru, seolah-olah melebihi dari yang wajib dan sunnah, inilah yang di msksut bidah mematikan sunnah bahkan yang wajib, dan juga yang di sebut dari sebagian pembodohan.

Bidah= kesesatan yang tiada ketara= mematikan sunah bahkan yang wajib. Kenapa banyak penggemarnya dan banyak yang menyukainya?

Penulis seorang yang sangat keras menentang bid’ah dan melawan arus balik faham di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas taqlid buta dan fanatik buta yaitu kepada mayoritas pengikut islam golongan terutama golongan yang paling mengklaim aswaja dan teriak-teriak nkri harga mati.

Penulis tau akibatnya. Jika menetang bidah/kesesatan yang tiada ketara yaitu di ancam, di benci, di kucilkan, tidak di sukai dan sejenisnya. Namun penulis akan terus mengembangkan faham yang sesuai perintah Allah dan rosulnya. Mungkin yang harus di perbaiki oleh penulis adalah ahlak dan etika dalam penyampaian. Karena penulis menyadari penyampaian yang tidak baik maka yang ada bukan merangkul mereka namun justru sebaliknya.

Namun apapun alasannya penulis tetap tidak akan sedikitpun menghormati dan menghargai orang-orang yang mengerjakan bidah. Tidak ada untuk saling menghargai dan menghormati dalam kesesatan, penulis akan tetep menjalankan aktivitas seperti biasa walaupun di depan penulis ada yang melakukan bidah seperti sedang mengadakan tahlilan, maulidan, dan sejenisnya. Baik itu yang melakukan saudara, tetangga atau siapapun.

Jangan kan ke ahli bid’ah orang lain, ke ahli bid’ah saudara-saudara penulis juga tidak mau menghargai dan menghormati, sebagai contoh ketika ayah penulis meninggal. Penulis tidak ikut tahlilan. Penulis katakan dengan tegas semua itu tradisi, bukan bagian dari ajaran islam dan semua itu bid’ah. Semua amalan tersebut akan sia-sia dan buang-buang waktu. Memang betul semua itu biarkan Allah yang menilai.

Dan jika mereka mengajak kedalam majelis atau pengajian yang menyakut bidah atau mungkin ngajak tahlilan, maulidan, haulan, syawalan dan sejenisnya. Penulis katakan kepada mereka dengan tegas. Maap itu amalan tradisi tidak usah di kerjakan utamakan kerjakan yang ada perintahnya dari Allah maupun rosulnya. Atau cukup katakan iya, Insyaallah.

Di kerjakan yang tidak tidak ada perintahnya, tidak dapat pahala yang ada dosa, karena amalan tersebut tertolak, karena rosul hanya mengikuti apa yang di wahyukan dan di perintahkan Allah, dan rosul pun mengatakan setiap amalan yang tiada contohnya dari kami itu sesat dan sesat tempatnya di neraka, kalau yang ada perintah nya di kerjakan sudah jelas dapat pahala. Pilihan di tangan masing-masing, penulis hanya mengingatkan sekaligus menangkis.

Jujur penulis tidak suka dengan amalan bid’ah dan kepada pelaku bid’ah. Karena semua itu membodohin diri, membuat munafik sejati, membuat nunjukin pembodohan, mayoritas mereka pada umumnya pintar-pintar sekolah tinggi, mondok puluhan, di kuliahkan dan bertitle. Tapi mereka mayoritas membodohin diri dan nunjukin pembodohan.

Karena mereka condong taqlid buta, tidak mau mencoba berusaha menggali ilmu pengetahuan di luar yang di ajarkan oleh gurunya, kiaynya dan sejenisnya, membaca Qur’an pun hanya arabnya tidak dengan terjemahannya alasannya takut tersesat dan nalar tidak nyambung, mereka berkeyakinan membaca arab nya saja sudah dapat pahala untuk apa membaca dengan terjemahannya, padahal melalui membaca Alquran + terjemahannya dan berusaha mentadaburi itu sangat di anjurkan karena di sana kita akan mendapat pengetahuan yang benar-benar sesuai tuntunan sariat islam, dan bahkan bisa menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang mungkin belum di temukan oleh ulama-ulama atau orang-orang terdahulu. Dan mereka mayoritas tidak suka menggali ilmu pengetahuan melalui membaca buku-buku dari berbagai macam buku, tidak hobi mendengar ceramah dari berbagai ustad dari golongan A hingga Z yang mereka dengar hanya yang mereka ikuti di majlis taqlim dan ustadz/ustadzah yang ceramahnya nglawak, kalau tidak nglawak tidak suka, yang ceramahnya ilmiah dan tegas mereka tidak suka, ini sudah banyak penulis jumpai di mayoritas umat islam. Dan terakhir mereka mayoritas tidak suka menggali ilmu melalui diskusi/perdebatan ilmiah antara golongan A hingga Z atau diskusi agama melalui perbandingan.

Dengan seiringnya waktu dari jaman ke jaman akan semakin dikit yang membela kebenaran yang Hak, itu memang sudah terbukti, yang benar di asingkan dan yang sebaliknya malah banyak didukung.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing (HR. Muslim no. 145).

Comment

tags:

Populer post